October 9, 2017

Tita Rosita, Jadi Wasit Sepakbola Karena Ibu

  • Share On

Tita Rosita, menjadi wasit sepakbola karena dorongan ibu.

Keberadaan wasit sebagai pengadil lapangan di setiap pertandingan apapun adalah sangat menentukan. Begitu juga dalam pertandingan sepakbola. Ritme pertandingan pun kadang kerap berubah dengan berbagai keputusan yang diambil oleh wasit. Bisa memanas, bisa tenang, bahkan bisa menjadi gemuruh sorak sorai penonton bila memang ada keputusan yang dianggap merugikan salah satu kesebelasan.

Kebanyakan wasit pertandingan sepakbola didominasi oleh kaum pria. Namun saat ini, kaum wanita banyak yang juga menjalani profesi ini. Sebut saja Jessica Salome asal Argentina. Lalu ada Sian Massey (32 tahun) yang kerap bertugas memimpin pertandingan Liga Premier wanita.  Kemudian Maira Americano asal Brazil. Dan yang sekarang sedang menjadi viral adalah Bibiana Steinhaus yang menikmati debutnya sebagai wanita pertama yang menjadi wasit di kompetisi Bundesliga.

Di Indonesia sendiri juga sudah banyak kaum hawa yang menjalani profesi sebagai wasit pertandingan sepakbola, salah satunya adalah Tita Rosita (23 tahun). Tita adalah salah seorang wasit yang bertugas di pertandingan Liga Kompas Gramedia U-14 Panasonic 2017. Pekan ke-8 adalah debut pertamanya sebagai wasit. Saat itu ia memimpin pertandingan antara Mandiri Selection melawan Villa 2000. Dan pada pekan ke-9 kemarin, ia memimpin pertandingan yang mempertemukan ASIOP Apacinti melawan Bina Taruna.

Mahasiswi jebolan Universita Negeri Jakarta Fakultas Ilmu Keolahragaan ini mengaku menjadi wasit sepakbola karena ingin memenuhi keinginan ibunya, Siti Taslimah.

“Ibu yang menyuruh aku untuk menjadi wasit. Bahkan beliau ingin melihat aku tampil di televisi ketika sedang memimpin pertandingan sepakbola, bukan sebagai pemain bola” tutur pemain bola liga profesional yang bernaung di Cosmir UNJ ini.

Keinginan dari sang ibu lah yang membuat akhirnya dia fokus menekuni dunia perwasitan hingga sekarang ini. “Pemain bola kan, ada batasan umur, kalau wasit kan tidak, itu juga salah satu yang membuat aku berpikir untuk bagaimana tetap bisa berkecimpung di dunia sepakbola khususnya di Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa profesi wasit terutama untuk perempuan, peluangnya lebih besar, karena masih jarang kaum wanita yang mau menggeluti profesi ini. Tita sendiri menyadari, wasit wanita masih suka dipandang sebelah mata. Maka dari itu dia ingin membuktkan bahwa wanita pun bisa menjadi wasit yang adil. Setidaknya beberapa sertifikasi sebagai wasit sudah dikantunginya. Pemegang sertifikasi wasit C3 (2015) dan wasit futsal Level 2 ini berencana untuk mengambil sertifikasi wasit C3 dalam waktu dekat.

 

“Saya ingin membuktikan pada seluruh insan sepakbola, bahwa wanita juga bisa memimpin pertandingan sepakbola dengan membuat keputusan-keputusan yang baik saat di lapangan sesuai dengan rule of the game,” paparnya.

  • Share On

Comment

No comments found.

Leave a reply

Got Something To Say:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Didukung oleh