Liga KG
Beranda / Berita / Berita Detail

Pemain Muda Indonesia Butuh Wadah Pembinaan Berkelanjutan

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Gelandang sekaligus kapten ASIOP Apacinti U-14, Jovanni Renaldi (14), ketika ditemui seusai menjalani laga di Liga Kompas Gramedia Panasonic U-14 di Stadion Ciracas, Jakarta, Minggu (4/3). Jovanni baru saja mendapatkan kesempatan melakukan uji coba di Almere City U-15, akademi salah satu klub di Liga Belanda, selama 19-24 Februari 2018.

JAKARTA, KOMPAS — Pemain sepak bola usia muda Indonesia butuh wadah pembinaan berjenjang di setiap kelompok umur dari usia anak-anak, remaja, hingga yunior. Sejatinya, kualitas pemain muda Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan pemain muda dari negara lain, termasuk negara dengan kultur dan sejarah sepak bola yang lebih baik.

Hal itu dirasakan dan diungkapkan gelandang sekaligus kapten ASIOP Apacinti U-14, Jovanni Renaldi (14), ketika ditemui seusai menjalani laga di Liga Kompas Gramedia Panasonic U-14 di Stadion Ciracas, Jakarta, Minggu (4/3).

Jovanni baru saja mendapatkan kesempatan melakukan uji coba di Almere City U-15, akademi salah satu klub di Liga Belanda, selama 19-24 Februari 2018. Ia mendapatkan kesempatan uji coba itu atas rekomendasi penyerang naturalisasi Indonesia sekaligus ujung tombak Almere City, Ezra Walian.

Selama menjalani uji coba, Jovanni berkesemapatan membela Almere City U-15 melawan Roda 23 U-15 dalam laga persahabatan, Senin (19/2). Pada laga yang berkesudahan dengan skor 5-0 untuk kemenangan Almere City U-15 itu, Jovanni mendapatkan kesempatan bermain 90 menit atau bermain penuh sepanjang laga.

Pelatih Almere City Robin Sacks memuji Jovanni karena sebagai pemain dari daerah tropis, ia bisa bermain 90 menit dalam suhu nol derajat sampai di bawah nol derajat.

Namun, ada sejumlah catatan yang diberikan Sacks kepada Jovanni, antara lain patut mengembangkan visi permainan dan juga mengembangkan kemampuan dua kaki.

Selama ikut laga persahabatan dan menjalani uji coba, Jovanni dinilai sering hilang konsentrasi ataupun bingung setelah menerima bola. Ia harusnya sudah tahu bola akan dikirim ke mana sebelum menerima bola. Di sisi lain, Jovanni terlalu dominan pada kaki kanan, sedangkan kaki kiri kurang.

Terlepas dari hasil uji coba itu, Jovanni menyampaikan, banyak pengalaman yang dipetiknya selama di Belanda. Yang paling utama, ia menilai, Belanda sangat serius mengembangkan sepak bola ataupun pembinaan pemain muda.

Paling tidak, Jovanni melihat, pada semua kelompok usia, ada tim dan kompetisi yang mewadahi. Untuk itu, pemain usia berapa pun tidak akan kebingungan untuk melanjutkan kariernya.

Hal ini bertolak belakang dengan di Indonesia. Di Indonesia, hanya beberapa kelompok usia yang ada wadah kompetisinya, terutama usia di bawah 14 tahun yang terwadahi oleh LKG Panasonic U-14. Untuk kelompok usia lain, jarang ada wadah kompetisi. Jikapun ada, kompetisi tersebut tidak berkelanjutan.

”Ini yang membuat kami bingung nanti bagaimana mengembangkan karier. Seperti sekarang, habis dari LKG U-14, kami tidak tahu mau ke mana lagi,” ujar Jovanni yang pernah mengikuti seleksi timnas Indonesia U-16 pada 2017.

Di sisi lain, Jovanni menuturkan, fasilitas latihan di Belanda sangat baik. Bahkan, sekelas klub amatir pun memiliki sedikitnya 10 lapangan latihan dengan kondisi rumput yang rata dan hijau. Akibatnya, ketika latihan, pemain bisa mengaplikasikan kemampuannya dengan optimal.

”Di sana, kami bisa latihan dengan nyaman dan maksimal karena lapangannya bagus-bagus. Kalau di sini, banyak lapangan yang jelek. Akhirnya, kami sulit memainkan bola dengan baik karena permukaan lapangan tak rata,” tutur pemuda bertinggi badan 175 sentimeter itu.

Butuh kompetisi berjenjang
Pelatih ASIOP Apacinti U-14 Yayat Supriatna menyebutkan, untuk mengembangkan kemampuannya secara berkelanjutan, pemain muda butuh menjalani pertandingan dalam suatu kompetisi sedikitnya 30 pertandingan per tahun. Hal itu harus dilakukan dari usia anak-anak, remaja, hingga dewasa tanpa putus.

Kondisi itu diperlukan untuk membina kemampuan ataupun mental anak-anak tersebut. ”Kalau hanya latihan terus tanpa bertanding dalam suatu kompetisi, kemampuan dan mental mereka tak akan terasa. Sebab, atmosfer latihan dan pertandingan sangat berbeda. Ada pemain yang hebat saat latihan, tetapi saat pertandingan melempem. Itu karena dia jarang bertanding,” tuturnya.

Yayat mengutarakan, wadah kompetisi berkelanjutan itu harus benar-benar diperhatikan pemangku kebijakan sepak bola di Indonesia. Sebab, sejatinya, kemampuan pemain muda Indonesia dan negara lain, termasuk negara yang sepak bolanya sudah lebih maju, tidak jauh berbeda. Terbukti, para pemain muda Indonesia sering juara di sejumlah kompetisi yunior tingkat internasional.

Beberapa pemain muda Indonesia pun dilirik klub-klub terkenal di Eropa. ”Itu membuktikan pemain muda Indonesia punya bakat ataupun talenta. Namun, bakat itu sering kali hilang ketika mereka memasuki usia remaja, yunior, bahkan dewasa. Sebab, ketika melewati usia muda, mereka kehilangan wadah kompetisi yang berkelanjutan,” ucap Yayat.

Oleh: ADRIAN FAJRIANSYAH

Sumber: Kompas.id

BERITA TERKAIT
Komentar
Berita Populer