Liga KG
Beranda / Berita / Berita Detail

Tim-tim Masih Terkendala Penyelesaian Akhir

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Pemain sekolah sepak bola (SSB) Bina Taruna (depan) Muhammad Hevan Wicaksana mengontrol bola saat dibayangi pemain SSB Siaga Pratama Kaka Irawan dalam lanjutan Liga Kompas Kacang Garuda (LKKG) di Stadion GOR Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (9/9/2018). Kedua tim bermain imbang 1-1. Tim-tim peserta LKKG masih terkendala penyelesaian akhir. (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

JAKARTA, KOMPAS – Hingga pekan keempat Liga Kompas Kacang Garuda U-14, hampir seluruh tim terkendala penyelesaian akhir. Penyelesaian akhir yang buruk membuat sejumlah peluang gol menjadi terbuang sia-sia.

Salah satu tim yang masih bermasalah dengan penyelesaian akhir adalah Bina Taruna. Pada pekan keempat Liga Kompas Kacang Garuda (LKKG) U-14, Minggu (23/9/2018), Bina Taruna hanya mampu menang tipis 1-0 atas Bina Taruna Cibubur. Gol semata wayang Bina Taruna dilesakkan Ade Akmal Yudistira pada menit ke-57.

Berdasarkan statistik pertandingan, Bina Taruna mencatatkan sederet peluang emas. Dari total 9 peluang emas, hanya satu yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh anak asuh Saut Tobing ini.

Saat menghadapi Bina Taruna Cibubur, pemain Bina Taruna, Evan, memperoleh dua peluang emas untuk membuat timnya memimpin terlebih dahulu. Evan yang berhadapan dengan kiper gagal melesakkan gol karena sepakannya dimentahkan. Bola muntah hasil sepakan itu juga tidak bisa dimaksimalkan menjadi gol karena ketidaktenangan Evan, sehingga tendangannya melambung tinggi.

Di babak kedua, peluang kembali menghampiri Bina Taruna. Memanfaatkan skema tendangan bebas, eksekusi pemain Bina Taruna mengenai mistar gawang. Pemain penyerang terlihat tidak siap memanfaatkan situasi tersebut dan bola hasil sepakan bebas itu kembali tidak menggetarkan jala Bina Taruna Cibubur.

Keberuntungan kemudian benar-benar berpihak kepada Bina taruna. Menjelang pertandingan berakhir, Yudistira yang memanfaatkan serangan balik cepat berhasil memperdaya kiper Bina Taruna Cibubur.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Pemain SSB Mandiri Selection Bimo Aril Prasetyo (kanan) berusaha mempertahankan bola saat dibayangi pemain SSB Matador Mekarsari Nicholas Abraham dalam lanjutan Liga Kompas Kacang Garuda U-14 di Stadion GOR Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (23/9/2018). SSB Matador Mekarsari menang 2-1. (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Saut Tobing mengatakan, faktor cuaca menyebabkan pemainnya kelelahan. Akibatnyya, banyak peluang emas tidak dapat dioptimalkan. Namun, Saut mengakui pemainnya masih harus terus mempertajam penyelesaian akhir. Terlebih mereka akan meladeni ASIOP Apacinti pada pekan kelima.

“Iya itu finishing dan latihan fisik akan kami tingkatkan. Seharusnya kami menang lebih dari 1 gol,” ujar Saut.

Hal serupa juga dialami Sekolah Sepak Bola (SSB) Pelita Jaya kala menghadapi Salfas Soccer pada pekan keempat. Kedua tim berbagi poin atas hasil imbang 1-1. Salfas Soccer mampu unggul lebih dulu melalui Fatham Nubinan.

Pelita Jaya kemudian menyamakan kedudukan akibat kesalahan pemain belakang Salfas Soccer Rizki Zakaria. Pertandingan antara Pelita Jaya dan Salfas berlangsung sengit dan diwarnai jual beli serangan.

Pelita Jaya beberapa kali merepotkan barisan pertahanan Salfas Soccer. Kekurangtenangan membuat penyelesaian akhir pemain menjadi buruk. Pemain Pelita Jaya yang tinggal berhadapan dengan kiper gagal mencetak gol.

Serangan bergelombang yang mereka bangun pun dimentahkan kiper Salfas Soccer. Penyelesaian akhir yang buruk membuat kedua tim harus puas bermain imbang.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Pemain SSB Mandiri Selection Muhammad Dimas (depan) berjibaku denagn pemain SSB Matador Mekarsari Muhammad Atha Nauval dalam lanjutan Liga Kompas Kacang Garuda U-14 di Stadion GOR Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (23/9/2018). SSB Matador Mekarsari menang 2-1. (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Pelatih SSB Pelita Jaya, Erlan, menyampaikan, pemainnya membutuhkan lebih banyak jam terbang. Jam terbang yang kurang, kata dia, berpengaruh terhadap kemampuan pemain memaksimalkan peluang. Meski bermain imbang, Erlan mengaku puas anak asuhnya bisa memetik 1 poin.

“Masih banyak pekerjaan rumah kami, penyelesaian akhir cuma salah satunya,” kata Erlan.

SSB Buperta Cibubur juga merasakan kendala pada penyelesaian akhir. Ketika menghadapi ASIOP Apacinti, Buperta Cibubur sangat mendominasi jalannya laga. Sejumlah peluang emas mampu diciptakan pemain Buperta Cibubur, M Rido Julian.

Julian tercatat dua kali memperoleh kesempatan berharga untuk membuat timnya memenangkan pertandingan. Hanya saja, ketidaktenangan Julian membuat peluang itu terbuang. Buperta pun harus rela berbagi angka dengan ASIOP Apacinti.

Pelatih Buperta Cibubur, Jumhari, menyatakan, penampilan pemainnya masih labil sehingga banyak membuang kesempatan mencetak gol. Jumhari mengungkapkan, porsi latihan penyelesaian akhir menjadi salah satu fokus timnya. Namun, sejumlah pemain berhalangan hadir dalam sesi latihan karena harus bersekolah siang hari. (I GUSTI AGUNG BAGUS ANGGA PUTRA)

BERITA TERKAIT
Komentar
Berita Populer