Liga KG
Beranda / Berita / Berita Detail

Semangat Tinggi Mengantar Zico ke Timnas Indonesia

Kerja keras, semangat, dan membangun motivasi pribadi mengantar Diego Armando Zico sebagai salah satu andalan lini serang tim nasional sepak bola Indoensia di kelompok usia muda.

 

Oleh  ADRIAN FAJRIANSYAH

 

KOMPAS/PRIYOMBODO

Pemain SSB Bina Taruna Sutan Diego Armando Ondriano Zico (merah) menghindari ganjalan pemain SSB Garuda Putra Bekasi dalam Liga Kompas Gramedia Panasonic U-14 di lapangan Sepak Bola Galaxy, Jakarta Timur, 2 April 2017. Selepas membawa SSB Bina Taruna juara LKG 2017, Zico terus berkembang menjadi andalan tim nasional kelompok umur Indonesia.

 

JAKARTA, KOMPAS – Beberapa tahun terakhir, penyerang Sutan Diego Armando Ondriano Zico telah menjadi salah satu bintang muda timnas Indonesia di sejumlah kelompok usia. Capaian itu tidak didapat secara instan oleh penyerang kelahiran Jakarta, 7 April 2002 itu. Selain kerja keras, semua diraihnya dengan semangat tinggi untuk tak pernah menyerah dengan segala keterbatasan, termasuk melawan cedera yang menghantam.

 

”Saya tidak punya pesan khusus untuk pesepak bola muda lain agar bisa masuk timnas. Tetapi, sejak kecil, saya selalu menyemangati diri sendiri agar selalu lebih baik dari orang lain. Selebihnya, terus kerja keras untuk meningkatkan kemampuan,” ujar Zico ketika berbincang dalam siaran langsung di akun Instagram Liga Kompas Kacang Garuda U-14, Selasa (9/6/2020).

 

Zico adalah salah satu fenomena baru dunia sepak bola Indonesia. Bersama sejumlah bintang muda, seperti penyerang Bagus Kahfi, Witan Sulaeman, hingga Egy Maulana Vikri, penyerang berusia 18 tahun itu menjadi aset masa depan sepak bola nasional.

 

Setelah menjadi top skor dengan 10 gol pada kualifikasi Piala Asia U-16 Thailand 2017, Zico terus menjadi langganan lini depan skuad Garuda Muda di sejumlah kelompok usia. Terakhir, dirinya tergabung dalam skuad Garuda Select untuk berlatih di Inggris dan timnas U-19 yang dipersiapkan untuk Piala Dunia U-20 di Indonesia pada 2021.

 

Menurut Zico, dia harus melalui jalan panjang dan penuh tantangan untuk mencapai titik saat ini. Sedari kecil, dirinya sudah berlatih sepak bola bersama ayahnya, Oriyanto Jhosan yang merupakan mantan pesepak bola nasional era 1980-1990an. Selain berlatih, hari-harinya diisi dengan bermain kompetisi antar kampung atau tarkam dari satu tempat ke tempat lain.

 

KOMPAS/PRIYOMBODO

Pemimpin Redaksi harian Kompas Budiman Tanuredjo (kanan) menyerahkan tumpeng kepada kapten Tim Liga Kompas-SKF Indonesia Sutan Armando Zico disaksikan Manager Marketing Communication PT SKF Industrial Indonesia Erfandy Priyo Utomo (kiri depan) dan Manager Wholesale and Business Development Joma Candra Zulfiansyah (dua kanan) pada acara pelepasan tim Liga Kompas-SKF Indonesia di lobi Gedung Kompas Gramdia, Jakarta Pusat, 13 Juli 2017. Tim Kompas-SKF Indonesia ini bertolak ke Swedia untuk mengikuti Piala Gothia 2017 pada 16-22 Juli 2017.

 

Puncaknya, Zico bergabung dengan SSB Bina Taruna yang mengantarkannya berkompetisi di LKG musim 2016/2017. Bersama SSB dari Jakarta Timur itu, dia berhasil merengkuh gelar juara liga musim tersebut dan membawanya terpilih sebagai penyerang sekaligus kapten tim LKG-SKF Indonesia untuk berlaga dalam Piala Gothia 2017 di Gothenburg, Swedia.

 

Walau terhenti di babak 32 besar Piala Gothia, tampil pada kejuaraan sepak bola usia dini tertua dan terbesar di dunia itu turut berkontribusi membawa Zico bergabung ke timnas U-17 asuhan Fakhri Husaini untuk berlaga di kualifikasi Piala Asia U-16. Setelah itu, karirnya terus menanjak.

 

Penyerang bertinggi 170 sentimeter itu sempat terpilih berlatih dalam akademi Chelsea di Singapura atau JSSL Chelsea FC dan bermain dalam Bayern Youth Cup di Jerman. ”Tetapi, saya belum puas. Saya ingin terus meningkatkan kemampuan dan karier. Dalam waktu dekat, saya ingin terpilih masuk timnas Indonesai U-20 untuk main di Piala Dunia U-20. Selanjutnya, saya ingin main di Eropa. Mimpi saya main klub favorit saya, Bayern Munchen,” kata penyerang yang sekarang bermain untuk Persija U-20 itu.

 

Bangkit dari cedera

 

Selama meniti karir, Zico tidak melaluinya dengan mulus. Banyak rintangan yang harus dilalui, salah satunya adalah cedera berulang kali yang dihadapinya ketika bermain di level SSB maupun timnas. Sakit terberat yang pernah dialaminya adalah hernia ketika membela LKG-SKF Indonesia di Piala Gothia.

 

Hal itu membuat Zico herus menjalani operasi di Gothenburg. Karena itu, dia hanya bermain dua kali dari lima laga yang dilalui timnya dari babak penyisihan hingga babak 32 besar. Dia juga pernah mengalami cedera ketika membela skuad Merah-Putih yunior.

 

Namun, Zico tak pernah berputus asa ketika dihantam cedera. Dia tetap bisa bangkit dan bisa terus menjaga konsistensi kariernya hingga sekarang. ”Saya bisa terus semangat juga karena ingin membalas pengorbanan orang tua. Dari kecil, mereka sangat mendukung karier saya. Sekarang, saya ingin jasa kedua orangtua tidak sia-sia,” tuturnya.

 

Selama menjalani karier, Zico mengatakan, haram bagi pesepak bola jika tidak memiliki semangat untuk terus meningkatkan kemampuan. Itu pula yang menjadi pesan yang pernah disampaikan semua pelatih yang pernah menanganinya. Dari pelatih Fakhri Husaini misalnya, dia selalu diminta untuk terus mengasah penyelesaian akhir.

 

”Dari semua pelatih, saya sangat berkesan dengan coach Fakhri. Dia adalah pelatih yang tegas dan displin. Dia juga perhatian agar semua pemain bisa menjadi lebih baik. Kepada saya, dia meminta saya terus meningkatkan kemampuan finishing,” ujarnya.

 

Semangat memang harus ada jika atlet atau pesepak bola ingin kariernya sukses. Tanpa semangat, atlet atau pesepak bola sulit memiliki motivasi untuk mengembangkan diri. Terlebih jika ingin berkarier di Eropa yang sangat menuntut atlet displin dan kerja keras.

 

ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN

Pemain Timnas U-22 Indonesia Egy Maulana Vikri (kedua kanan) menggiring bola dibayangi pemain Timnas Singapura Ryhan Stewart (kedua kiri) dalam pertandingan Grup B SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, 28 November 2019.

 

Egy Maulana Vikri sadar betul betapa semangat itu sangat dibutuhkan untuk berkarier di Eropa. Ketika berbincang dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali di akun Instagram Kemenpora, 10 Mei 2020, pesepak bola kelahiran Medan,  7 Juni 2000 itu mengisahkan, perbedaan utama pola latihan di Indonesia dan Eropa terletak pada fisik dan taktikal.

 

Khusus untuk fisik, porsi latihan di Eropa amat tinggi. Selain latihan rutin bersama tim pada pagi dan sore setiap hari, atlet juga dituntut melakukan latihan tambahan. Pola seperti itu sempat membuat Egy kaget dan kewalahan menjalaninya. ”Latihannya berat sekali. Sulit untuk dijelaskan. Intinya, harus selalu punya motivasi tinggi dan kuat mental untuk menjalani semuanya,” kata alumni LKG yang kini bermain di klub Polandia Lechia Gdansk itu.

 

Sumber: KOMPAS.ID

BERITA TERKAIT
Komentar
Berita Populer