Liga KG
Beranda / Berita / Berita Detail

Hadapi ”Raksasa” Asia, Bima Siapkan Mental

Mentalitas dan kedisiplinan menjadi dua hal penting bagi Bima Sakti, pelatih timnas sepak bola U-16 Indonesia, guna menghadapi Piala Asia U-16, akhir tahun ini. Kedua hal itu bisa menjadi kunci lolos dari grup ”neraka”.

 

Oleh  ADRIAN FAJRIANSYAH

 

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Bima Sakti (tengah) saat menjadi pelatih timnas sepak bola Indonesia di Piala AFF 2018 memimpin latihan tim di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (11/11/2018). Bima kini memimpin timnas sepak bola U-16 yang akan disiapkan menghadapi Piala Asia U-16 2020, akhir tahun ini.

JAKARTA, KOMPAS — Bima Sakti, pelatih tim nasional sepak bola U-16 Indonesia, berupaya menyiapkan mental timnya di Piala Asia U-16 2020 yang akan digelar di Bahrain, 25 November mendatang. Agar bisa lolos dari ”grup neraka”, timnas U-16 Indonesia wajib memiliki daya juang tinggi dan kedisiplinan.

 

Hal itu disampaikan Bima dalam acara LKG (Liga Kompas Kacang Garuda U-14) Talks yang digelar Selasa (23/6/2020) sore melalui Instagram Live. Pada babak utama Piala Asia U-16 di Bahrain, Indonesia tergabung di Grup D bersama Jepang (juara bertahan), Arab Saudi, dan China.

 

”Orang-orang menyebut kami ada di grup neraka. Namun, bagi saya tidak. Semua yang lolos (ke Bahrain) adalah tim-tim terbaik di kualifikasi. Yang terpenting, kita fokus dari laga ke laga, memberikan yang terbaik, dan pantang menyerah. Kita tidak perlu terbebani,” ujar Bima.

 

Menurut mantan kapten timnas Indonesia itu, timnya memiliki modal bagus tampil di turnamen tersebut meskipun latihan secara berkelompok tengah terhenti akibat pandemi Covid-19 sejak Maret lalu. Ia bercerita, sebelum latihan kolektif dihentikan, grafik penampilan timnya terus menanjak.

 

Tim ”Garuda Muda” menahan tim kuat Korea Selatan, 1-1, pada turnamen di Myanmar, Agustus 2019. Lalu, mereka juga menahan China, 0-0, pada laga kualifikasi Piala Asia U-16 2020 yang digelar di Jakarta, September 2019.

 

”Jepang mirip Korsel walaupun sedikit lebih kuat. China, yang pemainnya tinggi-tinggi, juga pernah kami tahan imbang di Jakarta. Lalu, kami pernah menghadapi tim-tim di Asia Timur, seperti Qatar dan Jordania, yang punya karakter mirip Arab Saudi. Saya malah senang kami jadi underdog (non-unggulan). Malah tidak jadi beban,” ujar Bima.

 

Menurut dia, meskipun kalah postur atau fisik dari ketiga tim lainnya di Grup D, pasukan Garuda Muda memiliki keunggulan lainnya, yaitu kecepatan dan daya juang tinggi. ”Semangat, daya juang, anak-anak sangat tinggi. Mereka bermain sepenuh hati. Maka, terkadang, mereka sampai menangis (ketika kualifikasi Piala Asia U-16). Itu bukan dibuat-buat, tetapi seperti itulah adanya,” ujar Bima saat tanya jawab dengan presenter Kompas TV, Githa Maharkesri, dalam LKG Talks itu.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Para pemain timnas U-16 Indonesia menangis terharu saat menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” menjelang laga melawan timnas U-16 China dalam kualifikasi Piala Asia 2020 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (22/9/2019). Indonesia lolos ke babak utama Piala Asia U-16 2020 meski bermain imbang melawan timnas U-16 China dengan skor 0-0.

 

 

Ia berharap timnya paling tidak dapat menyamai prestasi pada Piala Asia U-16 2018 di Malaysia. Ketika itu, mereka juga tidak diunggulkan dan tergabung di grup sulit bersama Iran, Vietnam, dan India. Namun, mereka justru menjadi juara grup dengan mengalahkan Iran serta menahan India dan Vietnam. Ketika itu, Garuda Muda diasuh pelatih Fakhri Husaini.

 

 

Demi ambisi itu, ia berharap timnas U-16 bisa mendapatkan lawan-lawan tanding yang kuat atau satu level dengan tim-tim yang akan mereka hadapi di Bahrain nantinya. Sebagai tahap awal, Bima telah merancang uji coba melawan tim-tim lokal dari kelompok umur yang lebih tinggi, seperti U-18.

 

 

Selama pandemi, termasuk hingga saat ini, para pemain timnas U-16 hanya berlatih di rumah masing-masing untuk menjaga fisik dan kebugaran. Namun, para pemain diwajibkan mengirim rekaman video latihan itu ke tim pelatih agar tetap bisa dipantau. ”Latihan tim belum dilakukan. Kami berharap secepatnya dilakukan dengan protokol kesehatan,” ucap Bima.

 

 

Meskipun berlatih di rumah masing-masing, Bima meminta anak-anak asuhannya tetap disiplin, misalnya menjaga pola makan sehat dan istirahat yang cukup. Bima adalah salah satu pelatih yang mengedepankan kedisiplinan, karakter sama yang ditekankan pelatih kepala timnas Indonesia Shin Tae-yong dan Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri.

 

 

Larangan dan denda

 

 

Ia mencontohkan, saat di pemusatan latihan, pemainnya dilarang makan di luar menu yang telah disediakan. Larangan serupa berlaku untuk makanan berminyak seperti gorengan. ”Saya denda Rp 100.000 jika makan di luar,” kata Bima.

 

 

”Saya selalu ingatkan pemain bahwa kebiasaan dalam latihan akan terbawa dalam pertandingan. Untuk itu, mereka harus selalu mengeluarkan kemampuan terbaiknya sejak latihan. Nanti, kebiasaan itu pasti akan terbawa dalam laga,” ujarnya kemudian.

 

 

Bima menambahkan, pemain timnas yang bagus bukanlah melulu soal kemampuan teknik yang hebat. Hal itu dibuktikannya saat memulangkan Tristan Alif, pesepak bola muda berbakat yang dijuluki ”Lionel Messi Indonesia”, dalam proses seleksi timnas U-16, tahun lalu.

 

 

”Tristan memiliki skill bagus. Tekadnya juga. Namun, saat saya coba di gim, ia terlihat kurang klop dengan pemain-pemain lain. Ia sering telat membaca permainan dan kehilangan bola. Fisiknya juga demikian,” tuturnya.

 

 

KOMPAS/PRIYOMBODO

Bima Sakti (kedua dari kanan) berbincang dengan Luis Milla, mantan pelatih tim nasional sepak bola Indonesia. Saat itu, Bima menjadi asisten Milla.

Dalam kesempatan ini, Bima pun membantah rumor miring yang menyebutkan dirinya pilih kasih atau ada pemain titipan di timnas. Rumor itu muncul seusai Tristan dipulangkan. Ia menegaskan, rumor itu jauh panggang dari api.

 

”Ada yang bilang, masuk timnas harus bayar. Saya katakan, ini salah besar. Tidak ada yang namanya titipan. Jika tidak sesuai kebutuhan (di tim) atau kurang disiplin, akan saya pulangkan (pemain). Tidak ada urusan dengan orangtuanya, siapa pun mereka,” tuturnya.

 

Terbantu LKG

 

Ia bercerita, banyak pemain timnas yang memiliki teknik bagus. Sayang, itu tidak disertai fisik atau sikap mental yang baik, termasuk kedisiplinan. Aspek lainnya, yaitu melakukan keputusan cepat dan kepandaian membaca bola atau permainan, juga penting. Berbagai hal di luar aspek teknik itu, ungkap Bima, hanya bisa didapat lewat kompetisi rutin dan berkualitas.

 

Ia berkata, pemain yang terbiasa tampil di kompetisi akan terlihat berbeda dengan yang tidak tampil di liga. Oleh karena itu, ia mengapresiasi penyelenggaraan LKG U-14 yang telah banyak melahirkan pemain timnas, termasuk di U-16, selama satu dekade terakhir. Ia berharap liga usia muda itu terus berjalan dan disempurnakan.

 

 

 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Pelatih Persipura Jayapura Jacksen F Tiago berbicara di depan para pemain perwakilan klub Liga Kompas Kacang Garuda U-14 saat melakukan pelatihan singkat (coaching clinic) di Lapangan GOR Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (16/2/2020).

Setidaknya ada 24 alumnus LKG U-14 yang telah dipanggil timnas di berbagai kelompok usia. Mereka terdiri dari 22 pemain putra dan 2 pemain putri. ”Saya sangat terbantu dengan adanya LKG U-14. Saya banyak mendapatkan pemain dari liga itu. Bahkan, beberapa alumnusnya menjadi tulang punggung di timnas sejumlah kelompok usia,” tuturnya.

 

Direktur LKG U-14 Caesar Alexey menjelaskan, tujuan utama kehadiran LKG U-14 adalah membina para remaja menjadi manusia seutuhnya melalui sepak bola. Operator juga ingin berkontribusi terhadap persepakbolaan nasional. Fokus utamanya, mencetak pemain sepak bola yang lengkap, mulai dari fisik, teknik, taktik, visi bermain, sampai sisi moril.

 

”Ketika ada alumni LKG U-14 yang dipanggil timnas, itu menjadi kebahagiaan dan kebanggaan kami karena pembinaan yang dilakukan berbuah hasil positif. Keinginan berkontribusi terhadap persepakbolaan nasional pun pelan-pelan terwujud,” ujarnya. (JON)

 

 

Sumber: KOMPAS.ID

BERITA TERKAIT
Komentar

Comment

No comments found.

Leave a reply

Got Something To Say:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Populer